suluk, perkamen dan sabak

tadi siang begitu dinginnya sehingga celana pendek yang dipakai penabuh gong di orkes thek-thek tadi siang pun ikut ngelunthung. Ada semacam filsafat tersendiri ketika melihat para pemain orkes yang seharinya bertani. Magis tangan pemegang rumput yang swadaya nglembur latihan musik demi pentas hari tadi. Dan kamu kira ini tak penting kerna yang penting tempinge. Judulnya agak mengklarinet, mempatrik dan menggurami.

Tenggelam

tenggelam dalam tuhan
tenggelam dalam tidurmu

JAPEMETHE

apa yang bisa kita banggakan dari diri kita sendiri? ada nggak?? kalau saya si seringnya ngebanggain orang lain. paman saya yang pejabat di jakarta, teman saya yang juara lomba, kawan lama yang jadi preman, ponakan yang cakepnya masyaAllah kaya dude herlino, atau mungkin saya pernah ngebanggain hebatnya sejarah masa lalu Indonesia? seingat saya, hal-hal yang pernah saya lontarkan dari mulut saya sendiri perihal keunggulan pribadi adalah kejelekan-kejelekan serta aib pribadi. duhhhh, betapa tak malu pada dirimu sendiri ran. kapan kamu mau tak memakan kotoranmu sendiri? sebuah titikolomongso yang sering didengungkan dan hanya seperti prameks lewat di gowok saja.

sesungguhnya kamu tidak akan merubah kamu sendiri kecuali kamu yang merubahnya sendiri.

Hidup nggak kaya roda, tapi kaya gasing



Tergantung perspektif mana yang kita pakai, hidup bisa kaya apa aja. Bagi saya, hidup itu berproses. Dari mulai diplintir, munyer, sampai ngglethak lagi. Hidup yang diberikan lho, bukan hidup yang dijalani. Karena adalah sombong kalau kita nggak bersyukur atas hidup kita.

Merawat Rahasia

Wanita yang memamerkan pahanya
Hendaklah jangan tersinggung
Kalau para lelaki memandanginya
Sebab demikianlah hakekat tegur sapa

Siapa ingin tak menyapa tak disapa
Tinggallah di bilik yang tertutup pintunya
Sebab begitu pintu dibuka
Orang berhak mengetuk dan menyapa

Maka dengan menonjolkan auratnya
Wanita memberi hak kepada lelaki siapa saja
Untuk menatapi benda indah suguhannya
Serta membayangkan betapa nikmat rasanya

Hendaklah wanita punya rasa sayang
Kepada ratusan lelaki di sepanjang jalan
Dengan tidak menyodorkan godaan
Yang tak ada manfaatnya kecuali untuk dipandang

Adapun lelaki, sampai batas usia
Hanya bisa berkata: Betapa indah wanita!
Maka bantulah ia merawat rahasia
Yang hanya boleh dikuakkan oleh istrinya

Emaha Ainun Nadjib

komunikasi gaya mukiyo

pertama kali saya kenal mukiyo saya langsung terhenyak dan tertawa. Begitu lucunya pacar saya (itu dulu,kalo sekarang mantan) cerita bahwa analogi orang yang suka nggombal di tanah kulonprogo dan sekitarnya adalah mukiyo. Gombal mukiyo. Lalu entah secara sadar atau tidak, mukiyo ini saya catut dalam analogi saya terhadap pola komunikasi yang absurd. Abstrak. Kesadaran kolektif saya resmi memilih kata ini. Ketika engkau bingung membaca paragraf ini, maka tercapailah apa yang disebut dengan komunikasi ala mukiyo. Komunikasi abstrak. Nah, berbeda dengan hal tadi, sebenarnya saya pengen ngomong ini hari adalah apa yang kita komunikasikan ke orang lain, kadang walaupun secara menggebu gebu kita berbicara, apa yintisari dari omongan kita nggak jelas. Kosong. Contoh dari hal sebaliknya adalah ketika ada seorang perempuan sedang mengepel lantai dan kemudian saya menatap dia secara dalam lalu kami saling menatap dalam tajam hanya sekitar 3detik mungkin. Tapi itu efektif. Kami tahu apa yang kami maksud. Komunikasi verbal.

selama ini saya lebih sering ngelindur dibanding ngawur

ngawur itu butuh energi. Butuh buah pikir yang matang dan terkonsep. Hanya saja mungkin dalam pelaksanaanyya agak grusa-grusu jadi ya hasilnya tidak selesai. Sedangkan ngelindur? Engkau pernah ngelindur? Kalau belum, cobalah hidup bagaikan raja. makan, tidur, ngemil nonton tivi, tidur, twitter, makan, dst. Tapi ya bagaikan lho. Bukan raja beneran. Jadi juga harus tahan banting kalau semisal makannya cuma sarimi, tidurnya di kasur busa 3 senti. Humm, tapi diatas semua itu, tetap bersyukurlah saya :)

Unfinished Buddha or Unfinished Solomon?


Sesuatu yang nggak selesai kadang punya satu filosofi tersendiri. seperti kata Mas Cebolang ketika melihat arca di puncak Borobudur:  Paran darunane iki, reca agung tur neng puncak, teka tan langkep ing warni. Yen pancen durung dadi, iku banget mokalipun; baya pancen jinarag, embuh karepe kang kardi. Mara padha udakarenen ing driya.” Artinya kurang tau apa, kurang lebih Mas Cebolang mempertanyakan keberadaan arca yang tidak lengkap ini dalam stupa puncak, “Kalau belum jadi, pastilah mustahil. Mungkin memang disengaja. Entah apa maunya yang membuat? Mari kita renungkan dalam hati!” 

Bentuk yang tidak sempurna ini menggambarkan moksa: dari ada bentuk ke tiada bentuk, dari rupa ke arupa.

Pertama belajar gitar pake lagu ini

Seribu Masjid Satu Jumlahnya

Emha Ainun Najib
1987




Satu

Masjid itu dua macamnya
Satu ruh, lainnya badan
Satu di atas tanah berdiri
Lainnya bersemayam di hati
Tak boleh hilang salah satunyaa
Kalau ruh ditindas, masjid hanya batu
Kalau badan tak didirikan, masjid hanya hantu
Masing-masing kepada Tuhan tak bisa bertamu

Dua

Masjid selalu dua macamnya
Satu terbuat dari bata dan logam
Lainnya tak terperi
Karena sejati

Tiga

Masjid batu bata
Berdiri di mana-mana
Masjid sejati tak menentu tempat tinggalnya
Timbul tenggelam antara ada dan tiada
Mungkin di hati kita
Di dalam jiwa, di pusat sukma

Membisikkannama Allah ta'ala
Kita diajari mengenali-Nya
Di dalam masjid batu bata
Kita melangkah, kemudian bersujud
Perlahan-lahan memasuki masjid sunyi jiwa
Beriktikaf, di jagat tanpa bentuk tanpa warna

Empat

Sangat mahal biaya masjid badan
Padahal temboknya berlumut karena hujan
Adapun masjid ruh kita beli dengan ketakjuban
Tak bisa lapuk karena asma-Nya kita zikirkan
Masjid badan gmpang binasa
Matahari mengelupas warnanya
Ketika datang badai, beterbangan gentingnya
Oleh gempa ambruk dindingnya
Masjid ruh mengabadi
Pisau tak sanggup menikamnya
Senapan tak bisa membidiknya
Politik tak mampu memenjarakannya

Lima

Masjid ruh kita baw ke mana-mana
Ke sekolah, kantor, pasar dan tamasya
Kita bawa naik sepeda, berjejal di bis kota
Tanpa seorang pun sanggup mencopetnya

Sedang masjid ruh di dada adalah cakrawala
Cengkeraman tangan para penguasa betapa kerdilnya
Sebab majid ruh adalah semesta raya
Jika kita berumah di masjid ruh
Tak kuasa para musuh melihat kita
Jika kita terjun memasuki genggaman-Nya
Mereka menembak hanya bayangan kita

Enam

Masjid itu dua macamnya
Masjid badan berdiri kaku
Tak bisa digenggam
Tak mungkin kita bawa masuk kuburan
Adapun justru masjid ruh yang mengangkat kita
Melampaui ujung waktu nun di sana
Terbang melintasi seribu alam seribu semesta
Hinggap di keharibaan cinta-Nya

Tujuh

Masjid itu dua macamnya
Orang yang hanya punya masjid pertama
Segera mati sebelum membusuk dagingnya
Karena kiblatnya hanya batu berhala
Tetapi mereka yang sombong dengan masjid kedua
Berkeliaran sebagai ruh gentayangan

Tidak memiliki tanah pijakan
Sehingga kakinya gagal berjalan
Maka hanya bagi orang yang waspada
Dua masjid menjadi satu jumlahnya
Syariat dan hakikat
Menyatu dalam tarikat ke makrifat

Delapan

Bahkan seribu masjid, sejuta masjid
Niscaya hanya satu belaka jumlahnya
Sebab tujuh samudera gerakan sejarah
Bergetar dalam satu ukhuwah islamiyah
Sesekali kita pertengkarkan soal bid'ah
Atau jumlah rakaat sebuah shalat sunnah
Itu sekedar pertengkaran suami istri
Untuk memperoleh kemesraan kembali
Para pemimpin saling bercuriga
Kelompok satu mengafirkan lainnya
Itu namanya belajar mendewasakan khilafah
Sambil menggali penemuan model imamah

Sembilan

Seribu masjid dibangun
Seribu lainnya didirikan
Pesan Allah dijunjung di ubun-ubun
Tagihan masa depan kita cicilkan

Seribu orang mendirikan satu masjid badan
Ketika peradaban menyerah kepada kebuntuan
Hadir engkau semua menyodorkan kawruh

Seribu masjid tumbuh dalam sejarah
Bergetar menyatu sejumlah Allah
Digenggamnya dunia tidak dengan kekuasaan
Melainkan dengan hikmah kepemimpinan

Allah itu mustahil kalah
Sebab kehidupan senantiasa lapar nubuwwah
Kepada berjuta Abu Jahl yang menghadang langkah
Muadzin kita selalu mengumandangkan Hayya 'Alal Falah!

sumber foto: http://nurudin.jauhari.net/engine/i/2004/12/Gempa-Tsunami-Aceh-2004-Masjid-Agung-Kokoh-Berdiri.jpg